Ekologi Kamoro

Sunday, April 18, 2010 , Posted by HB at 6:10 AM

 

 

 

 

 

 

1.

Suku Kamoro adalah kelompok adat yang mendiami sepanjang 300 km pesisir selatan Papua, di kawasan ujung timur Indonesia. Dari segi bahasa, mereka bersaudara dengan suku Asmat  yang tinggal di sebelah timur yang sangat terkenal karena kesenian mereka. Jumlah penduduk Kamoro sekitar 18.000 jiwa  terbagi dalam kurang lebih 40 kampung. Sekitar 1.500 penduduk Kamoro tinggal di berbagai lokasi transmigrasi sekitar Kota Timika. Penduduk Kamoro memiliki satu bahasa bersama dan berbagi banyak ciri kebudayaan. Tanah Kamoro dimulai dari Teluk Etna di sebelah barat dan menyatu ke arah timur di kawasan Sempan. Tanah Sempan berbatasan dengan daerah Asmat. Ketiga kelompok etnis tersebut membentuk keluarga bahasa Kamoro-Asmat dan berbagi beberapa ciri kebudayaan seperti misalnya bitoro suku Kamoro dan bisj suku Asmat, keduanya merupakan ukiran-ukiran besar yang melambangkan para leluhur yang baru saja meninggal dunia.

Lokasi

 

 

2.

Menuju arah barat tanah Kamoro, membentang rangkaian pegunungan Papua tengah mendekati daerah pesisir, dengan puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi dekat Laut Arafura. Kampung-kampung di lokasi ini adalah kampung pesisir. Deretan pohon sagu yang amat luas berawal di batas teratas daerah dampak arus pasang. Keadaan ini memungkinkan tersedianya makanan pokok bagi penduduk Kamoro di dekat kampung-kampung yang menghadap ke arah pedalaman. Bagi kampung pesisir, para penduduk menggunakan perahu-perahu lesung untuk menjangkau kawasan pohon sagu.

image

 

 

3.

Kontak pertama antara penduduk Kamoro dan dunia luar kemungkinan terjadi dengan para pedagang dari Indonesia bagian barat yang mencari kulit kayu massoy (banyak digunakan untuk obat tradisional Jawa), bulu burung cenderawasih, getah damar untuk bahan penerangan dan mencari budak. Sebagai alat tukar, digunakan perkakas logam, gong dan kain-kain. Perubahan besar-besaran pada suku Kamoro terjadi pada tahun 1925 ketika sebuah pos pemerintah kolonial Belanda dan misi Katolik Roma didirikan di Kokonau. Maka terjadilah pengendalian kekuasaan dan penduduk Kamoro dipaksa untuk meninggalkan beberapa aspek kehidupan adat mereka misalnya upacara tindik hidung (tidak higienis), lalu mereka tinggal dalam kampung-kampung permanen dimana terdapat sekolah-sekolah dan rumah-rumah untuk satu kepala keluarga (lebih mudah dikendalikan), serta pemindahan kepercayaan dari animisme hingga memeluk agama Katolik Roma.

image

 

 

4.

Tersembunyi oleh zona bakau yang terkaya dan berlimpah di dunia, masyarakat Kamoro yang sebelumnya menjalani kehidupan yang semi-nomadis (mengembara), memindahkan milik mereka yang tak seberapa antara hutan-hutan pohon sagu (yang dimulai dari kawasan pedalaman terjauh pada zona arus pasang) dan kawasan penangkapan ikan yang amat berlimpah di dekat pantai. Walaupun ada desakan-desakan yang cukup kuat dari dunia luar, masyarakat suku Kamoro tetap mempertahankan gaya hidup mereka yang semi-nomadis. Banyak sekali alasan untuk meninggalkan tempat tinggal mereka di desa untuk beberapa hari atau beberapa minggu: akses terhadap basis kekayaan alam yang lebih luas, peluang-peluang untuk bergaul dengan teman dan saudara, tidak perlu tunduk pada perintah-perintah dan kegiatan rutin di desa dan bagi anak-anak, hal ini merupakan liburan yang menyenangkan.

image

 

 

5.

Makanan pokok penduduk Kamoro adalah sagu yang dibuat dengan cara menebang pohon palem sagu, membelah intisari batang pohon dan menghanyutkan bagian sagu/karbohidrat yang murni dari serat-serat selulosa. Sementara hal ini merupakan kerja berat sesaat, namun tidak mengeluarkan tenaga seberat pembudidayaan selanjutnya, yaitu menjadikannya makanan siap-santap, baik dalam bentuk beras, gandum, jagung atau jenis biji-bijian lainnya.

image

 

 

6.

Suku Kamoro juga suka berburu untuk mendapatkan makanan. Jenis hewan yang terutama diburu adalah babi liar, kasuari dan kuskus. Hewan lain termasuk ikan, buaya air tawar dan buaya laut, kadal bakau dan beragam jenis burung baik untuk dikonsumsi telur maupun dagingnya.

Tugas utama kaum wanita adalah menjamin agar ada cukup bahan makanan untuk tiap kali bersantap. Di samping makanan pokok sagu, tiap hari mereka mengayuh perahu lesung  untuk mencari kayu bakar, udang dan moluska. Sejumlah besar gastropoda juga dikumpulkan untuk dimakan. Ada cukup banyak jenis krustasea (binatang berkulit keras) yang ditangkap, namun yang terutama adalah kepiting bakau untuk dikonsumsi di rumah serta untuk dijual.

Penduduk Kamoro bukan petani. Walau mereka telah diarahkan selama berpuluh tahun, makanan dari tumbuhan masih merupakan jumlah kecil bahan pangan mereka.

image

 

 

7.

Situs-situs transmigrasi yang tersebar merupakan ancaman terbesar terhadap gaya hidup penduduk Kamoro, serta eksosistem wilayah Timika. Sedikit sekali perhatian yang diberikan terhadap hak-hak tanah tradisional para penduduk Kamoro ketika penduduk pendatang didatangkan dari pulau Jawa.

image

 

 

8.

Batang tubuh pohon Cryptocarya massoy mengandung minyak yang mudah menguap, sebanding dengan kayu manis. Komoditas yang diperdagangkan sejak dahulu kala, dan hingga kini masih tetap dikumpulkan di bagian paling barat tanah Kamoro. Kegunaan utamanya adalah di pulau Jawa dimana massoy merupakan bahan rempah utama bagi berbagai obat-obatan tradisional dengan serangkaian manfaat, termasuk untuk pencegahan kejang-kejang selama kehamilan. Massoy dasar digunakan dalam beberapa jenis sayur kare dan sebagai bahan campuran pewarna untuk pembuatan batik Jawa.

image

 

 

9.

Satu keluarga kembali ke Desa Atuka setelah seharian mencari makan di hutan bakau. Mereka membawa kembali kayu bakar, buah beri liar, kepiting untuk dijual dan kerang / moluska tambelo untuk dimanfaatkan di rumah sendiri. Sering kali mencari makan di hutan diselingi dengan bepergian terkadang selama berhari-hari hingga satu minggu ke daereh sagu yang berada lebih ke arah hulu.

image

 

 

10.

Setiap hari, bepergian ke hutan dilakukan dengan menggunakan kano yang dikayuh sendiri. Tetapi ada juga kesempatan untuk bisa bepergian menumpang sampan yang luas yang menggunakan mesin luar. Tiap desa kini memiliki jonson [outboard motors] tetapi harganya yang mahal serta kesulitan memperoleh bahan bakar membatasi penggunaannya.

image

 

 

11.

Timbunan batang kayu yang siap dikapalkan dari tanah Kamaro. Perusahaan penebangan kayu tidak menbayar royalti kepada pihak Kamoro. Banyak diantara jenis kayu yang digunakan untuk membuat kano sama dengan kayu yang diberi harga mahal oleh pelaku bisnis perkayuan. Hak-hak tanah tradisional perlu diperjelas dan dilindungi oleh pemerintah.

image

 

 

12.

Kupu-kupu dapat dijumpai dalam jumlah yang amat banyak di tanah Kamoro, tetapi belum dipelajari ataupun di didaftar dengan saksama. Serangga yang cantik tersebut dapat menjadi sumber informasi yang lumayan dalam menilai keragaman hayati di sebuah daerah. Jenis-jenis kupu-kupu yang paling lazim dijumpai adalah birdwings,Troides (Ornithoptera) priamus. Birdwings yang terdapat di Papua semuanya berasal dari jenis Troides, dan berjumlah delapan macam, dimana enam diantaranya berada di wilayah proyek Freeport.

image

 

 

13.

Di Timika, terdapat dua jenis buaya: air tawar dan air asin/muara. Sejak perburuan komersial dilarang pada tahun 80-an, buaya air asin mulai berkembang biak lagi, tetapi yang berukuran besar masih sangat sedikit jumlahnya. Buaya darat, atau buaya air tawar dapat mewakili jenis baru, yang berbeda dari yang ditemukan di bagian utara Papua.

image

 

 

 

14.

Dua telur burung kasuari yang besar dan segenggam ikan bakar bisa menjadi santapan yang amat lezat bagi satu keluarga Kamoro, jika dilengkapi dengan sagu. Dengan diet berdasar sagu dan protein ikan, diet penduduk Kamoro sangat bervariasi karena banyak bahan-bahan alami yang diperoleh atau diburu sesuai apa yang ditemukan.

image

 

 

15.

Seorang ibu rumah tangga Kamoro membakar ikan dan merebus sebutir telur burung kasuari. Dengan diet dasar sagu dan protein dari ikan, masih banyak bahan lainnya yang ditambah untuk memberi variasi pada diet mereka, dimana haban-bahan alami diburu atau dikumpulkan sesuai apa yang ditemukan.

image

 

 

16.

Perkemahan sementara penduduk nelayan dibangun di pantai-pantai di dekat muara untuk memudahkan penangkapan ikan yang menguntungkan. Penduduk Kamoro jarang sekali menangkap ikan di tengah laut. Hewan-hewan besar seperti kura-kura, ikan hiu dan ikan besar lainnya biasanya ditangkap dengan seruit, lainnya mereka tangkap dengan jala. Menangkap ikan dengan kail dan tongkat sangat jarang dilakukan.

image

 

 

17.

Sebuah kano besar kembali ke desa asalnya menjelang senja setelah menangkap ikan dan mencari makanan seharian. Beberapa orang dewasa dan anak-anak terkadang menghabiskan satu hari penuh guna mencari makan berupa kerang-kerangan, udang, buah-buah liar dan daun-daun yang dapat dimakan di hutan bakau.

image

 

 

18.

Desa Iwaka terdiri dari 101 rumah yang terletak sepanjang jalan sentra. Rumah-rumah tersebut terbuat dari kayu dan beratap seng. Rumah-rumah tersebut, demikian juga gereja dan sebuah sekolah, telah dibangun oleh Freeport sebagai kompensasi/ganti rugi atas penggunaan hak tanah Iwaka untuk kota perusahaan Kuala Kencana. Walaupun situs-situs transmigrasi dan perusahaan-perusahaan perkayuan juga telah menggunakan tanah Iwaka, namun penduduk Kamoro tidak menerima restitusi/ganti rugi hak guna.

image

 

 

19.

Sebuah gubug kapiri kame sepanjang sungai. Bahan-bahan tradisional yang digunakan adalah daun pandanus (dari jenis yang dinamakan kapiri dalam bahasa Kamoro) untuk dinding-dindingnya dan daun sagu untuk atapnya. Bahan plastik mulai banyak digunakan. Kebanyakan diantara gubug-gubug sementara tersebut ditempati oleh beberapa keluarga.

image

 

 

20.

Kapiri kame merupakan kegiatan tradisional, tetapi tidak salah jika juga menikmati mainan canggih masa kini sementara berada jauh dari rumah. Sebuah tape recorder bertenaga baterei cocok juga diantara dinding pandanus dan kasur-kasur tidur. Tidak ada penyekat resmi dalam gubug panjang yang bentuknya memanjang dan sifatnya sementara tersebut.

image

 

 

21.

Ikan kerap kali diasap di depan perkampungan kapiri kame. Walaupun harga-harga ikan segar di pasar Timika lebih tinggi, kini sudah ada jalan untuk penduduk Kamoro guna memperoleh es yang diperlukan untuk membekukan makanan.

image

 

 

22.

Para orangtua mengayuh sampannya sementara putri mereka beristirahat di bawah sebuah payung Freeeport yang melindunginya dari terik matahari. Para orangtua yang tidak membawa anak bepergian pulang pergi ke situs-situs kapiri kame yang mereka tempati bersama teman-teman dan sanak keluarga.

image

 

 

23.

Sebuah perkampungan kapiri kame jauh di hulu sungai Kamora, sekitar satu hari berkayuh dari desa Iwaka. Tiap suku (taparu) yang membentuk Iwaka telah menentukan hak-hak turun-temurun yang dapat dinikmati bersama melalui perkawinan. Orang luar memperoleh izin untuk menggunakan sumber-sumber setempat, biasanya dengan memberi imbalan sebagain dari hasil yang diperoleh/terkumpul.

image

 

 

24.

Dua kepting hutan bakau dan sejumlah ikan lele jenis Siluroidea sedang menunggu untuk diangkut ke Timika. Sementara kepiting dapat bertahan selama berhari-hari, ikan yang telah mati perlu segera dibekukan atau langsung di bawa ke pasar setelah ditangkap. Ikan sering kali dijual dalam keadaan diasap, yang mengakibatkan harga jualnya menjadi lebih murah dari pada ikan segar.

image

 

 

25.

Ular Papua Boa Tanah, Candoia aspera, malang nasibnya karena menyerupai ular yang sangat berbisa dari Eropa, yaitu adder. Ular jenis tersebut, hidup di malam hari seperti halnya ular sejenisnya dan ditemukan ketika sedang dilakukan pengguntingan rumput di Desa Iwaka. Walaupun kebanyakan penduduk Kamoro sangat takut terhadap ular, selalu saja ada seseorang dalam tiap desa yang suka menjadi pawang, dan tentu saja senang menakut-nakuti teman-temannya.

image

 

 

26.

Urbanisasi/perpindahan penduduk pesat yang terjadi di Timika, serta perkampungan sementara di sekitarnya merupakan rintangan terbesar bagi ekosistem setempat. Terutamanya, penduduk Iwaka, yang menjadi gusar karena mereka hampir tidak menerima imbalan apapun ketika berbidang-bidang tanah mereka diambil alih untuk penduduk transmigran / pendatang.

image

 

 

27.

Timika adalah kota yang sangat berhasil, dan merupakan kota yang terpesat lajunya di Indonesia dengan peningkatan penduduk dari segelintir orang di awal tahun 70-an hingga 50.000 jiwa saat ini, yaitu 35 tahun kemudian. Kota tersebut dibangun di atas tanah tradisonal Kamoro.

image

 

 

28.

Di pagi hari beberapa kelompok wanita berangkat untuk mengumpulkan bahan-bahan alam di dalam hutan bakau. Terkadang mereka ditemani oleh para suami atau seorang kerabat pria, tetapi umumnya penduduk wanita tersebut pergi sendiri. Kayu bakar, kepiting dan kerang-kerangan merupakan penghasil utama dari “swalayan” hutan bakau.

image

 

 

29.

Sedikit di luar Desa Atuka, sentra pegunungan pulau ini nampak menjulang menepis kabut pada hari-hari yang cerah. Gunung-gunung berlereng terjal menjulang tinggi dari sentra dataran pegunungan hingga 40 sampai 50 km di sebelah barat Atuka. Sedikit sekali penduduk Kamoro menyempatkan pergi ke kaki lereng gunung-gunung tersebut, karena bahan makanan utama mereka yang berasal dari laut, hutan bakau dan hutan tropis sudah cukup berlimpah.

image

 

 

30.

Seorang pembeli di Atuka menunjang industri gubug yang lumayan besar yang membuat sapu-sapu yang sederhana dari tulang tengah daun phon kelapa, dan dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai sapu lidi. Para pembeli membayar Rp.500 untuk tiap sapu dan menjualnya di Timika seharga Rp.1,000. Kelapa diperoleh di desa-desa seharga Rp.500 per buah dan dijual dalam jumlah besar di Timika mulau dari Rp1,000 sampai Rp.1,500 .

image

 

 

31.

Remaja pria berpakaian baru yang berkilau untuk pergi ke karapae atau upacara pentahbisan/perkenalan di Desa Atuka. Bulu-bulu yang dipakai diperoleh dari Burung Cnederawasih yang diburu oleh penduduk Kamoro.

image

 

 

32.

Sula Leucogaster, atau Brown Booby adalah pengunjung langka ke pantai-pantai Kamoro di tepi Laut Arafura. Hewan ini tertangkap di pantai dan niscaya seperti nasib burung-burung besar lainnya akan menjadi santapan yang lezat..

image

 

 

33.

Pohon sagu penting, karena disamping menjadi makanan pokok juga berfungsi sebagai bahan bangunan. Banyak jenis pohon lainnya juga dapat digunakan untuk membangun rumah, baik yang terdapat dalam paya-paya hutan bakau, maupun yang berada dalam hutan tropis. Walaupun mengumpulkan bahan-bahan tersebut dapat memakan waktu beberapa hari, namun pembangunan sebuah rumah itu sendiri dapat dilaksanakan hanya dalam satu sampai dua hari oleh satu tim pria yang penuh dedikasi.

image

 

 

34.

Daun pohon sagu merupakan bahan yang lebih disukai untuk atap. Membuat atap secara tradisional dengan bahan tradisional, kini telah mulai tergeser oleh penggunaan seng. Penampilannya sangat tidak menarik, sangat panas untuk tinggal di bawah atap tersebut dan jika hujan sangat berisik sehingga tidak mungkin untuk berpikir secara rasional apalagi berbincang-bincang. Namun sisi positifnya, atap tersebut terbuat dari bahan besi yang dapat tahan lebih lama, serta dapat pula digunakan untuk mengumpulkan air.

image

 

 

35.

Dinding rumah-rumah di pesisir terbuat dari bagian tengah daun pohon palem sagu. Ini dinamakan gaba-gaba di Indonesia Timur. Tiang-tiang penyangga tempat-tempat tinggal tersebut terbuat dari dua macam jenis pohon bakau, yaitu Rhizophora, disamping tiga bakau jenis utama. Bangunan-bangunan terbaik terbuat dari kayu besi setempat, yaitu intsia bijuga.

image

 

 

36.

Paku-paku juga mulai semakin banyak digunakan untuk membangun rumah, tetapi bahan pengikat yang terbaik masih tetap rotan, Calamus spp., yang merupakan rambatan hutan yang kencang dan mudah dipilin. Dalam bahasa Kamoro rotan dinamakan kema, dan dilengkapi oleh dua jenis rambatan lainnya, yaitu Flagellarta indica dan Mussa enda.

image

 

 

37.

Berbusana lengkap untuk menghadiri festival, Aman mengenakan busana yang dikepang dari batang tubuh pohon kembang sepatu, Hibiscus Tiliaceous, yang lazim dijumpai di daerah pesisir. Sebelum adanya gereja dan pemerintahan, penduduk pria tidak berbusana, atau sekedar mengenakan koteka. Kini, penduduk wanita kadang-kadang mengenakan blus yang terbuat dari bahan batang tubuh pohon kembang sepatu. Baik pria maupun wanita menggunakan pakaian jadi yang dibeli di toko-toko.

image

 

 

38.

Melubangi bagian dalam sebatang tubuh pohon untuk membuat gendang, seorang pria meniup pada bagian halus yang terdapat di dalam batang pohon dengan sebuah pipa bambu secara teratur dan terkendali, agar memperoleh ketebalan yang tepat pada sisi-sisinya. Ada dua atau tiga jenis yang digunakan untuk bahan pembuat gendang : Hibiscus tiliaceous dan Thespesia popuimea.

image

 

 

39.

Freeport telah membangun sebuah sentra pahat bagi penduduk Kamoro di Timika. Selama pembangunan Kuala Kencana, para pemahat yang bekerja di sentra tersebut menerima banyak pekerjaan dalam bentuk patung-patung berukuran besar guna mendekorasi kota yang baru tersebut. Patung-patung yang berdaya tahan lama terbuat dari dua jenis kayu dari pohon yang keras setempat,Intsia bijuga dan i. pelambica yang lazim disebut kayu besi Maluku.

image

 

 

40.

Sebuah pahatan yang besar, yang dinamakan mbitoro, adalah penting dalam tiap upacara adat penduduk Kamoro. Patung tersebut melambangkan seorang tua yang baru saja meninggal dunia yang bantuan dan perlindingannya kini diharapkan. Hanya pohon-pohon terpilih yang digunakan, dan berbeda dari desa ke desa. Di pesisir jenis tersebut adalah Myristica fatua di Desa Atuka dan Horsfeida irja di Desa Kekwa.

image

 

 

41.

Sebuah tiang totem, sebagaimana halnya sebuah pahatan, melambangkan satu atau dua orang tua berkuasa yang baru meninggal dunia dan yang patut diperingati/dihormati oleh seluruh desa. Hanya beberapa jenis pohon tertentu yang boleh dipergunakan untuk pahatan tersebut, termasuk Myristica fetua dan Horsfeida irja.

image

 

 

42.

Telur-telur burung-burung liar menjadi sumber protein yang lezat bagi penduduk Kamoro. Contoh ini diambil dari salah seekor pembuat sarang gundukan tanah berkaki besar/megapod, kemungkinan besarMegopodus reinwart, yang lebih dikenal sebagai Common Scrubfowl. The Red-Billed Bush Turkey, Talegalla cuvieri, juga membuat sarang gundukan tanah.

image

 

 

43.

Mettalic Sterling, Aponis metallical, menjadi kedapan yang lezat bagi remaja pria. Mereka memburunya secara musiman di daerah berpaya-paya dimana umumnya burung-burung tersebut bertengger pada senja hari. Remaja-remaja tersebut bersembunyi kemudian menggunakan ranting-ranting yang pipih dan panjang untuk mengusik burung-burung tersebut ke bawah. Selanjutnya burung-burung tersebut langsung dipanggang dan dimakan.

image

 

 

44.

Tamu" musiman dari benua Australia, burung pelikan, (Pelicanus conspicillatus) dapat ditemui dalam jumlah besar hingga mencapai 200 ekor, baik di pegunungan pasir maupun apungan lumpur di muara. Penduduk Kamoro menggunakan bulunya untuk bahan dekorasi.

image

 

 

45.

Kulit burung cendrawasih, seperti misalnya Greater Bird of Paradise, telah diperdagangkan oleh penduduk Kamoro jauh sebelum mereka terkena pengaruh dari dunia luar. Mereka terkadang masih diburu dengan menggunakan panah dan busur. Dalam berbagai upacara adat pada festival Kamoro tahunan, topi atau sekedar bulu-bulu atau seluruh burung tersebut menambah warna dan kesemarakan busana para pria.

image

 

 

46.

Burung Dara Selatan Bermahkota (Goura Scheepmakeri) yang unik dan endemis adalah yang terbesar diantara tiga jenis, yang telah membagi Papua menjadi tiga bagian wilayah eksklusif. Burung tersebut memiliki cakar yang mematikan demi kelangsungan hidupnya; sifatnya lumayan jinak dan memiliki tubuh yang besar dan berdaging (gemuk). Burung dara kita juga sangat tertarik pada sisa-sisa pohon sagu di tengah hutan, satu hal yang sangat diketahui oleh penduduk Kamoro. Jika Anda kembali ke sebatang pohon sagu yang sudah ditebang maka Anda akan menemukan mereka dalam jumlah yang Aduhai!…

image

 

 

47.

Seorang nelayan menjual hasil tangkapannya di tepi jalan yang menuju bandara, tepat sebelum masuk kota Timika, dan dekat beberapa kolam ikan segar yang berlokasi beberapa puluh meter dari Tanggul Barat Sungai Ajkwa. Ikan-ikan ini jenis African tilapia, ikan yang diimpor dan biasa dikenal sebagai mujair (Orchochromis mossambica). Dr Cory Allen, seorang ahli perikanan terkemuka menyatakan bahwa ikan yang diimpor menjadi ancaman lebih besar terhadap ekosistem setempat dibanding dengan tailings yang dihasilkan oleh Freeport.

image

 

 

48.

Seorang pendatang asal Asmat memamerkan seekor ikan Kelelawar berkepala punuk yang besar. Sambil bersusah payah membawa ikan tersebut bersama semua hasil tangkapan lainnya, ia harus berjalan beberapa kilometer untuk sampai pada tempat di mana ia akan menjual hasil tangkapannya. Berbeda dari penduduk pendatang lainnya, penduduk Asmat jarang menetap di tanah Kamoro.

image

 

 

49.

Dua wanita Kamoro memasang sebuah tirai yang panjang dan tipis, atau pembatas tanggul/bendungan, sepanjang sebuah kali dari satu tepi ke tepi seberangnya pada waktu pasang naik. Pembatas tersebut ditunjang oleh tiang-tiang kokoh yang ditanyapkan pada kedua tepi tersebut dan juga di dasar kali berlumpur lunak. Ketika pasang surut, ikan-ikan akan terperangkap di bagian hulu.

image

 

 

50.

Seorang nelayan "menghela" seekor ikan hiu kecil dari sebuah jala yang dipasang malam sebelumnya di laut, berdekatan dengan pantai. Sirip-sirip ikan tersebut yang bernilai tinggi dan sangat digemari oleh orang Cina, adalah alasan mengapa sekarang ada penangkapan ikan hiu komersial yang berlebihan di Laut Arafura, hal mana telah mengurangi hasil penduduk Kamoro, baik ditinjau dari aspek makanan maupun keuangan.

image

 

 

51.

Bertahun-tahun lamanya Freeport membeli ikan barramundi (Lates calcarifer) yang paling tinggi harganya di wilayah ini, langsung dari penduduk Kamoro. Cara pembelian tersebut kini telah dihentikan. Sekarang sebuah binis yang dimiliki penduduk Kamoro berusaha menjual ikan-ikan tersebut.

image

 

 

52.

Seorang remaja laki-laki dengan bangga memamerkan ikan Talang Queen, Scomberoides commersonnianus, yang baru ia tangkap dengan kailnya di sebuah muara yang terdapat di situ. Karena teralu jauh untuk dijual sebagai ikan segar di pasar (karena tidak ada es untuk membekukan) maka ikan tersebut akan diasap kemudian baru dijual, hal mana berarti harganya akan jauh lebih rendah.

image

 

 

53.

Seorang pendatang di pasar Timika memperlihatkan seekor ikan berukuran besar, kemungkinan Giant Threadfin, Elautheronema tetradactylum. Nelayan Kamoro jarang sekali menjual langsung kepada pelanggan, dengan demikian mereka kehilangan bagian dari keuntungan yang cukup besar jumlahnya.

image

 

 

54.

Kebanyakan penduduk Kamoro tinggal terlalu jauh dari pasar-pasar untuk menjual ikan segar mereka yang sebetulnya bisa menghasilkan pendapatan yang jauh lebih besar. Mereka terpaksa harus mengasap-keringkan hasil tangkapan mereka, hal mana berarti harga jualnya menjadi sepertiga lebih kurang dibanding jika ada es atau bahan bakar untuk kapal mesin yang lebih murah dan mudah di-akses oleh mereka.

image

 

 

55.

Seorang nelayan dari Desa Atuka, Soter Maporo, telah memasang sebuah jala malam sebelumnya di sebuah muara yang berada 50 meter ke arah darat dari tepi pantai. Ia memamerkan hasil tangkapannya pada pagi hari, satu ekor ikan barramundi, Lates calcarifer; dua ekor threadfin, polydactylus sp.; dan tiga ekor ikan asin croaker, kemungkinan Johnius coitor (atau J.volgeri). Seorang penduduk asli, Domi, telah membeli semua ikan tersebut seharga Rp.4,000, yaitu sebanding dengan harga satu kilo beras di Atuka. Segera setelah menjual hasil tangkapannya, Soter memasang jalanya kembali untuk memeriksa hasil tangkapannya pada sore harinya.

 image

 

 

56.

Dari semua jenis hewan berkulit keras, yang tertinggi nilainya di daerah Timika adalah kepiting hutan bakau, Scyllia olivacaeous. Suatu jenis yang sangat serupa, S. Serrata dapat ditemui di hutan-hutan bakau lainnya. Menilik permintaan pasar Timika saat ini bisa diartikan bahwa kepiting ini dipanen secara berlebihan, yang berarti menuju kepunahan populasinya. Selama beberapa waktu, kepiting tersebut diangkut ke Singapura lewat udara, tetapi kini hal tersebut telah dihentikan.

image 

 

 

57.

Udang Air Tawar Raksasa, Macrobranchium rosenbergi, dapat ditemukan baik di darat maupun sepanjang pesisir hutan bakau, serta dijual dan disantap oleh penduduk Kamoro, tergantung dari pada akses mereka terhadap pasar. Udang-udang raksasa ini berganti warna dari coklat yang kekuning-kuningan menjadi hitam pada saat mereka telah sepenuhnya dewasa, namun apapun warnanya, rasanya amat lezat. Orang Australia menamakan udang inichaerbin atau charabun.

image 

 

 

58.

Jenis kepiting daun, juga dikenal dengan nama eporo diantara penduduk Kamoro, walaupun bentuknya terlampau kecil untuk dinikmati mereka, jenis ini sering bermanfaat sebagai umpan. Menurut hasil penelitian departemen lingkungan hidup Freeport, jenis ini adalah pendatang baru bagi ilmu pengetahuan dan untuk sementara waktu digolongkan sebagai jenis Dorippe sp…

 image

 

 

59.

Kota Madya Kokonao merupakan lokasi pemasaran untuk barang-barang hasil upaya penduduk Kamoro yang tinggal di sekitar kota tersebut. Di antara pembeli-pembeli utama barang-barang dagangan para Kamoro terdapat saudagar-saudagar Bugis, pejabat-pejabat pemerintah dan pengikut gereja Katolik setempat. Diantara barang dagangan mereka selain hewan moluska berkelopak dua dan hewan remis corbiculate, juga terdapat Polymesoda coaxans, P. papuensis dan P. enosa. Semua jenis hewan tersebut di atas pada umumnya adalah hasil tangkapan wanita-wanita Kamoro pada waktu melakukan perjalanan mereka untuk mencari makanan.

image 

 

 

57.

Meskipun baik jenis moluska berkelopak dua maupun jenis siput digemari sekali oleh penduduk Kamoro, mereka cenderung lebih menyukai hewan remis yang besar. Jenis remis ini mereka masak langsung di atas api terbuka untuk dimakan bersama dengan sagu. Bekas rumah hewan remis kelak dipakai untuk membuat kapur yang merupakan bahan yang berguna untuk mendekorasi tubuh yang biasanya dilakukan pada upacara-upacara dan ritual-ritual, disamping sebagai bahan pencegah penggrogotan kanu oleh organisme-organisme.

image 

 

 

58.

Di daerah Timika kadang-kadang ditemukan suatu jenis kerang berbentuk triton (semacam trompet). Kerang in bernama Busykon Whelk yang juga dikenal sebagai Trompet Palsu, atau Syrinx aruanus. Jenis ini sering ditemukan terdampar di pantai tanpa isinya. Bila masih terdapat hewan kerangnya di dalam maka dia akan langsung dimakan. Rumah kerang kosong biasanya diberi lubang pada bagian atasnya dan digunakan sebagai trompet. Jenis kerang ini juga terkenal sebagai jenis siput yang terbesar di dunia.

image 

 

 

59.

Bagi orang Kamoro, tambelo adalah santapan lokal yang sangat lezat. Bila Anda berkesempatan mengunjungi sebuah desa Kamoro, janganlah lupa mencoba makanan lezat berupa cacing licin dan panjang seperti jenis cacing kapal. Sebetulnya tambelo, yang masih tergolong keluarga moluska berkelopak, tak terlampau menjijikkan dan tidak berbeda rasanya dari tiram mentah yang manis dan lezat.

image 

 

 

60.

Tambelo biasanya ditemukan di dalam pohon-pohon bakau yang dalam proses membusuk. Hewan jenis moluska ini mulai tampil ke permukaan begitu saat pohon bakau dibelah. Terdapat berbagai ragam jenistambelo yang semua tergolong keluarga Teredinidae, termasuk cacing kapal yang masih berhubungan keluarga (meskipun jauh), tetapi tidak layak dimakan sepanjang pengetahuan kami. Tambelo yang terpanjang adalah Kalo menurut pendapat orang Kamoro. Jenis ini dalam bahasa ilmiah dikenal dengan nama Bactronophorus thoracites..

image 

 

 

61.

Panjang rata-rata seekor tambelo adalah 30 cm. Yang paling lezat hanya bisa diperoleh di dalam dua jenis pohon bakau, yaitu Rhizophora stylosa dan Rapiculate. Satu jenis pohon bakau lain adalah R. micronata yang umumnya didiami jenis tambelo yang disebut Dicyathifera mucronata. Jenis tambelo ini tidak terlampau enak untuk dimakan.

image 

 

 

62.

Menurut penduduk Kamoro yang bertempat tinggal sekitar daerah sebelah timur tanggul, populasi tambelo air tawar pulih kembali setelah tanggul bagian timur selesai dibangun. Mereka berhasil menangkap sedikit pada tahun 1999, tetapi karena alasan yang misterius populasinya hilang lagi pada awal tahun 2000. Jenis berkelopak dua ini masih terdapat dalam jumlah besar baik di bagian sebelah timur maupun sebelah barat daerah pengendapan tailings PT Freeport.

 image

 

 

63.

agi penduduk Kamoro yang bertempat tinggal di daerah tepi laut, jenis hewan biawak yang paling lazim dan bertubuh besar adalah Mangrove Monitor, atau Varanus indicus. Dagingnya digemari sekali sebagai makanan dan kulitnya berguna karena bisa diolah menjadi bahan penutup gendang. Masih dapat serangkaian jenis biawak lain yang hidup di daerah tersebut termasuk Varanus salvador yang diperkirakan menjadi biawak bertubuh terbesar di seluruh dunia.

 image

 

 

64.

Bagi penduduk Kamoro yang bertempat tinggal di daerah tepi laut, jenis hewan yang paling lazim dan bertubuh besar adalah Mangrove Monitor, atau Varanus indicus. Dagingnya digemari sekali sebagai makanan dan kulitnya dimanfaatkan sebagai bahan penutup gendang. Masih terdapat serangkaian jenis biawak lain yang hidup di daerah tersebut, termasuk Varanus salvador yang diperkirakan menjadi biawak bertubuh terbesar di seluruh dunia. Biawak-biawak yang terlihat pada gambar ini semua diikat satu sama lain sebelum dibunuh untuk dimakan.

 image

 

 

65.

Buaya air asin terjerat dalam jala seorang nelayan Kamoro di muara sungai Aikwa. Hewan-hewan bertubuh besar seperti yang ini tidak lazim ditemukan tetapi di dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan jumlah kemunculanmereka diperkirakan akan bertambah sering karena perburuan jenisnya untuk tujuan komersial telah dilarang selain tidak ada pasar lokal untuk kulitnya.

 image

 

 

66.

Contoh dari sebuah alat perangkap untuk menjerat hewan, sebuah model tiruan dari perangkap yang biasa digunakan penduduk Kamoro untuk menangkap babi hutan, burung kasuari atau lain-lain hewan buruan. Alat tersebut dipasang sepanjang jalur yang biasa dilalui si hewan yang ingin ditangkap di dalam rawa dan hutan rimba. Bagian tali jeratnya ditutupi dengan dedaunan dan dikaitkan pada sebatang pohon muda yang mudah dibengkokkan dan cepat akan lurus kembali begitu alat perangkap tersentuh.

image 

 

 

67.

Hewan kuskus berbintik-bintik, atau Spilocuscus maculatus, lazim terdapat di daerah dataran rendah Papua. Warna bulu kulitnya bervariasi dari putih bersih hingga coklat muda. Daging kuskus dihargai tinggi oleh penduduk Kamoro sedangkan kulitnya dipakai mereka sebagai hiasan kepala khusus oleh pemimpin-pemimpin penting. Hewan kuskus dapat dijinakkan bila dipelihara dan dibesarkan di desa.

image 

 

 

68.

Kulit hewan kuskus yang berbintik-bintik biasanya dijadikan pengikat kepala yang indah bagi seorang pemimpin, sebuah tanda kedudukan penting yang lazim, apalagi bila ditambah lagi dengan bulu-bulu burung kasuari. Hiasan-hiasan ini hanya dikenakan pada upacara bersifat ritual.

image 

 

 

69.

Babi bukan hewan asli bagi Papua. Mereka diimpor ke pulau ini lama setelah pendatang-pendatang manusia yang pertama tiba. Kini, babi hutan adalah hewan buruan utama untuk penduduk Kamoro. Hewan ini ditangkap dengan alat jerat atau diburu dengan bantuan anjing-anjing dan lembing-lembing. Kadang-kadang pohon sago ditebang dan dibelah untuk digunakan sebagai umpan.

 image

 

 

70.

Penduduk pendatang yang tinggal di daerah Timika berburu babi di daerah penduduk Kamoro. Jalan yang telah dibangun oleh perusahaan kayu Djayanti telah mempermudah akses ke daerah perburuan sehingga penduduk pendatang bersaing langsung dengan pemilik tanah tradisional penduduk Kamoro..

image 

 

 

71.

Bagi para Kamoro, ulat sago (bukan seekor cacing) adalah makanan paling lezat dan paling dihargai. Pohon sago dewasa setelah ditebang sengaja dibiarkan membusuk. Selama proses pembusukan pohon-pohon diserbu organisme dari jenis kumbang dari golongan keluarga Rhinchophorus dengan berat 3-8 gram, berkandungan protein 3-7%, lemak 10-30% dan sisanya adalah air. Tingkat identifikasi jenisnya adalah R. Schack, yang juga dikenal dengan nama ulat sago..

 image

 

 

72.

Bila tidak dimakan ulat bertumbuh dewasa dan menjadi kumbang dari golongan Rhinchophoridae, atau kumbang besar. Hewan-hewan yang telah dewasa mempunyai alat peraba berwarna jingga. Seperti juga kumbang pohon palem yang lain, kumbang besar ini dapat merusak pohon, tetapi hal ini tak dihiraukan oleh para Kamoro. Ada pula kelompok-kelompok suku lain yang sama seperti penduduk Kamoro menganggap ulat sago sebagai satu jenis makanan yang sangat lezat.

 image

 

 

73.

Kupu-kupu berwarna jingga cemerlang bernama Junonia Villide, merupakan satu pemandangan umum di Timika. Kupu-kupu jenis tersebut selalu dijauhi oleh burung-burung karena warna cemerlangnya rupanya tidak mereka sukai.

 image

 

 

74.

Kupu-kupu berekor menyerupai burung layang, Lyssa zampa docilism, sangat lembut seperti namanya. Pola dan warna pada sayapnya lembut mungkin dimaksudkan untuk tidak cepat menjadi mangsa atau sasaran hewan lainnya. Lokasi pembudidayaan pemeliharaan kupu-kupu berpotensi besar menjadi sumber pendapatan bagi penduduk Kamoro..

 image

 

 

75.

Di dalam hutan tropis pada salah satu lokasi perkemahan sementara penduduk Kamoro, jenis kupu-kupu tersebut gemar sekali berdekatan dengan manusia. Jenis Hypolycaena danis hidup dari bunga anggrek. Kupu-kupu tersebut sama sekali tidak malu atau takut pada manusia, bahkan seakan-akan tidak peduli dengan keberadaan lensa besar alat pemotretan yang dipasang tidak seberapa jauh darinya.

image

 

 

76.

Penyu/kura-kura berperut merah ini, atau Emycura subglobosse, hanya ditemukan di dalam sungai-sungai di daerah pedalaman. Pada masa lampau jenis ini katanya banyak membantu penduduk leluhur penduduk desa Iwaka, sehingga dengan demikian hewan ini menjadi tabu atau dilarang untuk dimakan orang. Sayang sekali larangan tersebut tak berlaku lagi.

image

 

 

77.

Langkah pertama dalam proses pembuatan kapal kano adalah memilih sebatang pohon. Ada 10 pohon berbeda-beda jenis yang kayunya cocok untuk membuat kapal kano. Dua pokok utama yang selalu harus diperhatikan dalam pembuatan kapal kano adalah lilitan pada pohon, dan jumlah tenaga yang tersedia untuk dilibatkan. Kayu besi dianggap terlalu keras untuk dicungkil, tetapi masih ada jenis-jenis kayu lain yang sanggup bertahan sampai 8 tahun. Kayu jenis lunak juga cocok sebagai bahan kano tetapi kano semacam ini hanya dapat bertahan sampai 2 tahun.

image

 

 

78.

Pohon, setelah dicungkil batangnya untuk dijadikan kano, perlu dibengkokkan terlebih dahulu sampai bentuknya betul-betul lurus. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut maka lubang/bagian dalam kano diisi dengan air kemudian api dinyalakan pada kedua sisinya. Dengan cara ini kayu kano menjadi lentur dan dapat dimanipulasi, tentunya hal tersebut perlu dilakukan dengan hati-hati agar kayunya tidak retak. Kebanyakan kano dari jenis kayu lunak hanya bertahan satu sampai dua tahun.

image

 

 

74.

Pembuatan kano berukuran besar biasanya melibatkan tenaga banyak orang dan dilakukan bergotong-royong oleh kerabat satu keluarga. Kano-kano berukuran kecil untuk pemakaian keluarga umumnya dibuat sendiri sesuai kebutuhan, biasanya tiap dua tahun sekali. Sebelumnya, kapak batu yang kadang-kadang diperdagangkan dengan penduduk Papua dari Dataran Tinggi, digunakan untuk membuat kano-kano. Bulu-bulu dan kerang-kerang ditukar untuk mendapat batu-batu berbentuk.

image

 

 

75.

Kini perkakas yang digunakan untuk pembuatan kano adalah kampak/kapak biasa dan untuk bagian-bagian kano yang memerlukan lebih banyak kejelian digunakan kapak/beliung yang terbuat dari logam.

image

Currently have 0 comments:

Leave a Reply

Post a Comment