Adhimix BCS Precast System

Thursday, September 23, 2010 , Posted by HB at 5:01 PM

 

Joint Model

Metode Sambungan Balok

 

A. PADA KOLOM (Single)

 

A.1 Pertemuan 3 balok

 

a. Balok menumpu pada kolom sejarak s = 25 mm

Atau dengan rumusan  :  s = d – ds Prinsip  :

- Jarak balok yang menumpu kolom masih memberikan ruang (space) untuk tulangan sengkang kolom (sc).

- Jarak balok yang menumpu kolom masih memberikan angka aman untuk toleransi erection dan produksi, sesuai dengan PCI design handbook.

 

Dimensi balok  =  b x h

Dimensi balok precast  =  b x (h - ht)

 

b.1 Kondisi tinggi balok (h) seragam

 

Untuk balok pada arah sb.x, tulangan bawah menerus dan dipotong sesuai dengan kebu-tuhan panjang las minimum (lihat Lampiran). Pada jarak 50 mm dari tepi balok, posisi tu-langan balok I dan II naik 1x diameter tul. balok sb.y (balok III) untuk mempermudah sa-at pengelasan dilapangan. Agar tidak saling bertabrakan antar tulangan balok I dan II, ma-ka salah satu tulangan balok I atau balok II dibending kearah dalam (lihat Gambar). Tulangan balok sb.y menerus, namun ditekuk 90 derajat ke atas. Demikian juga untuk tulanganatas, menerus dan ditekuk 90o ke bawah dengan perpanjangan 12db. (db = diameter tulangan)

 

 

b.2 Kondisi tinggi balok (h) tidak seragam/berbeda

Prinsip  :

- Posisi tulangan yang dilas diatas tulangan yang tidak dilas, agar pengelasan dapat sempurna.

- Balok I dengan tinggi yang besar (h >), posisi tulangan menyesuaikan dengan tinggi tulangan balok II dengan h yang lebih kecil.

- Tulangan balok II dengan h yang lebih kecil dibendingmasuk kedalam, agar  tidak bertabrakan dengan tulangan balok I.

- Bendingtulangan didalam beton balok, pada jarak min. 50 mm dari tepi ba- lok.

 

Prinsip  :

- Jika tinggi balok (h) sb.y lebih kecil dari tinggi balok sb.x, maka tulangan balok sb.x (balok II) dibendingnaik 1x diameter tulangan sb.y (balok III) dan di bendingmasuk ke arah dalam.

 

BCS 1BCS 2

 

BCS 3 BCS 4

 

BCS 5

 

 

A.2 Pertemuan 4 balok

 

a. Balok menumpu pada kolom sejarak s = 25 mm

    Atau dengan rumusan  :  s = d – ds

    Dimensi balok  =  b x h

    Dimensi balok precast  =  b x (h - ht)

 

b.1 Kondisi tinggi balok (h) seragam

Untuk balok pada arah sb.x & sb.y, tulangan bawah menerus dan dipotong sesuai dengankebutuhan panjang las minimum (lihat Lampiran). Pada jarak 50 mm dari tepi balok, po-sisi tulangan balok sb.x (balok I dan II) naik 1x diameter tul. balok sb.y untuk mempermu-dah saat pengelasan dilapangan. Posisi ini dapat berubah, sesuai dengan urutan install ba-lok dilapangan.

 

 

b.2 Kondisi tinggi balok (h) tidak seragam/berbeda

 

Prinsip  :

- Balok I dengan tinggi yang besar (h >), posisi tulangan menyesuaikan dengan tinggi tulangan balok II dengan h yang lebih kecil.

- Tulangan balok II dengan h yang lebih kecil dibendingmasuk kedalam, agar  tidak bertabrakan dengan tulangan balok I.

 

Prinsip sambungan sama seperti yang dijelaskan disambungan pada pertemuan 3 balok.

 

 

sambungan sambungan

 

sambungan sambungan

 

 

B. PADA KOLOM (Double)

 

Prinsip sama dengan Metode Sambungan Pada Kolom (single) point A. Metode sambungan mempergunakan sistem pengelasan.

 

B.1 Pertemuan 3 balok

a. Balok menumpu pada kolom sejarak s = 25 mm

     Atau dengan rumusan  :  s = d – ds

       

        Prinsip  :

        - Jarak balok yang menumpu kolom masih memberikan ruang (space) untuk

           tulangan sengkang kolom (sc)

       - Jarak balok yang menumpu kolom masih memberikan angka aman untuk

          toleransi erectiondan produksi, sesuai dengan PCI design handbook

 

b.1 Kondisi tinggi balok (h) seragam

 

Untuk balok pada arah sb.x, tulangan bawah menerus dan dipotong sejarak d1 = 80 mmdari tepi balok precast. Pemotongan tulangan pada balok arah sb. x dimaksudkan untukmempermudah pemasangan balok sb y, dimana tulangan pada balok arah sb y menerusdan dilapangan/proyek tulangan tersebut ditekuk 90 derajat ke atas. Demikian juga untuk tulangan atas, menerus dan ditekuk 90o ke bawah dengan perpanjangan 12db (db = diameter tulangan) Sambungan tulangan pada balok arah sb. X mempergunakan tulangan tambahan sejarakd2 = 270 mm, yang harus dipersiapkan diproyek. Tulangan balok sejarak d1 dan d2 dilas dengan 2 sisi sesuai panjang pengelasan (Ls).

 

sambungansambungan sambungan sambungan

sambungan

sambungan

B.2 Pertemuan 4 balok

 

a. Balok menumpu pada kolom sejarak s = 25 mm

Atau dengan rumusan  :  s = d – ds

Dimensi balok  =  b x h

Dimensi balok precast  =  b x (h - ht)

 

b.1 Kondisi tinggi balok (h) seragam

Untuk balok pada arah sb.y, tulangan bawah menerus dan dipotong sesuai dengan kebu-tuhan panjang las minimum (lihat Lampiran). Sedangkan untuk balok pada arah sb. x, tulangan dipotong sejarak d1 = 80 mm. Sambungan untuk balok arah sb. x mempergu-nakan tulangan tambahan yang dilas 2 sisi.

 

b.2 Kondisi tinggi balok (h) tidak seragam/berbeda

 

Prinsip  :

- Balok I dengan tinggi yang besar (h >), posisi tulangan menyesuaikan dengan tinggi tulangan balok II dengan h yang lebih kecil.

- Tulangan balok II dengan h yang lebih kecil tetap normal.Prinsip sambungan sama seperti yang dijelaskan disambungan pada pertemuan 3 balok.

 

sambungan 

sambungan sambungan

 

 

 

C. PADA BALOK

Metode sambungan mempergunakan sistem plat embeded.

 

a. Balok induk dipasang plat embeded sesuai perhitungan, pada posisi balok anak. Plat em-beded terpasang 3 buah, 2 bh pada sisi tepi balok anak, 1 bh pada sisi bawah balok anak.Plat terpasang bersamaan dengan rakitan besi balok dan dicor bersama dengan balokprecast. Penempatan plat embeded sesuai dengan dimensi yang tercantum dalam shopdrawing yang telah diapproval oleh pihak ekstern (kontraktor/konsultan/owner).

 

sambungan baloksambungan balok

Letak embeded sisi samping 1/2.h dari balokanak. Apabila panjang dari plat embeded keluar dari balok precast maka letak plat embeded min. 20 mm dari top balok precast. Sedangkan letak embeded sisi bawah 1/2.bdari lebar balok anak.

 

sambungan balok  arrow sambungan balok 

 

 

b. Apabila tulangan atas memungkinkan untuk disalurkan ke balok induk sepanjang Ld (panjang penyaluran), maka plat embeded terpasang hanya sisi bawah. Perhitungan untuk tulangan atas balok anak terlampir.

 

 

plat embeded

 

 

 

Metode Sambungan Kolom

A. Kolom dengan Poer

 

a.Stek tulangan kolom ke poer sepanjang Ld' (lihat lampiran)

b.Stek tulangan kolom diberi tulangan sengkang, apabila tinggi poer tidak mencukupi Ld tulangan kolom.

c.Bottom kolom precast turun 25 mm dari top poerd.Setting kolom :

 

d.1.Setting sementara kolom dengan menggunakan 2 type adjustable.Adjustable panjang untuk penyangga sementara kolom, adjustable pendek untuk settingas-as kolom.

Adjustable panjang dipasang 2 bh dengan posisi pemasangan saling tegak lurus. Untuk setting as-as kolom menggunakan adjustable pendek 4 bh. Apabila posisi kolom telah se-suai maka dipasang adjustable panjang 2 bh lagi. Cor kepala kolom. Setelah umur kuranglebih 1 (satu) hari, 4 bh adjustable panjang dapat dilepas untuk setting kolom berikutnya.Adjustable pendek tetap terpasang sampai dengan kolom diatasnya tersetting.

 

sambungan kolom  sambungan kolom 

 

 

d.2. Dudukan adjustable pada kolom menggunakan sabuk kolom (α=60o), sedangkan dudukan adjustable pada balok atau tie beam menggunakan base plate yg dikunci pada balok dengan mempergunakan tulangan tambahan φ6 / φ8 yang tercor bersama dengan balok. Sabuk kolom terbuat dari plat baja yang dipasang pada posisi 2/3*H bottom sebelum ko-lom dierection.

 

base plate sabuk kolom

 

d.3 Kepala kolom dicor bersamaan dengan cor topping.

Tinggi kolom berdasarkan bottom dari tinggi balok paling besar. Dan panjang stek tula-ngan kolom menyesuaikan panjang pengelasan sesuai dengan diameter kolom terpa-sang.

 

Posisi stek atas kolom :

 

sambungan kolom

 

B. Kolom dengan kolom

 

a. Kolom atas dan kolom bawah disambung dengan cara pengelasan melalui stek yang keluar dari kolom atas dan kolom bawah. Panjang pengelasan (Ls) sesuai dengan diameter kolom (lihat lampiran)

b.Setting kolom tidak berbeda jauh dengan diatas.

c.Untuk kekakuan kolom pada saat setting ; setelah slab terpasang, sejarak kurang lebih 30 cm sekeliling kolom dicor dengan material grouting atau beton mutu sama dengan kolom.

 

sambungan kolom dg kolom

 

C. Kolom dengan Balok Tangga

 

a. Kolom yang berhubungan dengan balok tangga diberi plat embeded sebagai sistem sambungan.

 

Plat embeded terpasang 1 bh pada sisi bawah selebar balok tangga, sedangkan sambungan tulangan atas menggunakan stek dengan panjang sesuai panjang pengelasan.

 

Sambungan Kolom dengan Balok Tangga

 

 

Metode Sambungan Slab

 

A. Slab dengan Balok

 

a. Posisi perletakan slab, menumpu pada balok min. sejarak s = 25 mm

 

sambungan slab

 

b. PC Wire masuk dibalok sejarak 125 mm. (SK.SNI 03-2847-2002 Pasal 15.3)

 

sambungan slab

 

 

B. Slab dengan Slab

 

a. Pertemuan slab dengan slab disambung dengan stek pengikat Wire rode dengan panjang pe-nyaluran 350 mm (sesuai diameter wire rode) yang dipasang pada tepi slab, tegak lurus terhadap PC Wire.

 

- Saat terproduksi, wire rode dikeluarkan dan ditekuk kearah dalam.

 

Slab dengan Slab

- Saat terpasang, wire rode dibuka dan ditekuk kearah luar.

 

Slab dengan Slab 

b. Saat install, slab dipasang supportmin. 2 (dua) support pada masing-masing pertemuan slab. Apabila dipasang 1 (satu) support; setelah pengecoran, slab tersebut tidak boleh menerima beban sampai strength beton topping memenuhi = 0,70 f'c

 

Slab dengan Slab

c. Untuk kondisi khusus, dimana pertemuan slab dengan slab adalah PC Wire. PC Wire dipotong sejarak 20 mm atau sesuai spaceyang dapat dilakukan oleh gunting potong PC Wire. Dilapangan perletakan slab dengan slab, diberi ruang (space) untuk overlap PC Wire dan digrouting.

 

Slab dengan Slab

Untuk penyaluran tulangan PC Wire yang terputus digunakan tulangan tambahan yang disalurkan ke topping.

 

Slab dengan Slab

 

METODE SAMBUNGAN TOPPING

 

a. Pengecoran topping dilakukan setelah preslab terpasang. Interlockingbeton antara topping dan preslab dilakukan dengan cara pengkasaran permukaan preslab yang dilakukan pada saat produksi di workshop plant precast, cibitung.

 

b. Pengecoran topping yang dilakukan secara parsial tidak menyeluruh, stop cor topping harus berada pada daerah kritis (1/4L) atau pada penempatan support preslab. (Berdasarkan metodeLess Moment)

 

 

Slab dengan Slab

c. Tulangan topping menggunakan wiremesh ataupun baja tulangan yang ditempatkan pada daerah kritis (1/4L).

 

topping

 

Tulangan topping diikatkan dengan kawat bendrat yang telah terpasang pada preslab sejarak kurang lebih 1000 mm pada posisi tengah daerah kritis.

 

topping

 

d. Pemutusan tulangan pada topping harus diberi sambungan (overlap),tidak boleh terputus tanpa ada overlap. Jarak overlap tulangan :

 

- Use Wiremesh-------->satu kotak spasi ditambah minimal 2,5 cm.satu kotak spasi disesuaikan dengan type wiremesh yang akan digunakan (type M - 150/150 atau type B - 100/200.

 

Wiremesh350  

- Use Tulangan baja --------> Sesuai panjang penyaluran tulangan tarik - Ld (lihat lam-piran)

 

overlap sambungan tulangan

 

 

 

METODE SAMBUNGAN LT. DASAR

 

a. Lantai dasar menggunakan rabat beton dengan ketebalan t = 100 mm, yang diletakkan pada lantai kerja t = 50 mm dan urugan pasir t = 50 mm.

 

 

image

b. Tulangan yang dipergunakan pada Lt. Dasar : wiremesh atau tulangan baja yang digelar 1 lapis sepanjang rabat beton Lt. Dasar. Tulangan hanya berfungsi sebagai tulangan susut (retak).

 

tulangan lt. dasar

wiremesh 1 lapis

 

METODE SAMBUNGAN LISTPLANK

 

1. Posisi bottom Listplank 2.50 m dari elv. 0.00, elv. 3.20, dan elv. 6.40. Kedudukan listplank dibantu dengan balok penggantung.Ketebalan dimensi balok penggantung menyesuaikan ketebalan dinding yang akan dipergunakan.

 

2. Sistem sambungan listplank menggunakan sistem plat embeded pada kolom dan stek tulangan yang diletakkan pada balok penggantung.

 

sambungan listplank

3. Untuk sistem stek tulangan, balok precast yang akan dibebani listplank diberi coakan untuk mempermudah setting/pemasangan listplank.

 

coakan untuk setting

4. Sengkang pada balok precast dibuat sistem terbuka. Setelah listplank dapat tersetting pada balok precast, stek tulangan pada listplank dibending 90 degree kearah dalam. Sengkang balok precast yang terbuka di tutup kembali setelah stek tulangan listplank telah terbending. Erection listplank mengunakan mobile crane, dan setting dibantu dengan pipa support ataupun schafolding.

 

sambungan listplank

 

METODE SAMBUNGAN TANGGA

A. Tangga dengan Balok

 

A.1 Dengan Tie Beam

 

a. Struktur tangga menumpu pada balok sejarak s = 25 mm.

b. Pada tangga, stek pengikat antar struktur tangga dan tie beam berupa tulangan corbel yg dipasang dengan sistem terbuka dan dicor bersama dengan tangga precast.

c. Sambungan tangga dan tie beam digrouting sesuai dengan spesifikasi grouting materials.

 

sambungan tangga

 

A.2 Dengan Balok

 

a. Struktur tangga menumpu pada balok sejarak s = 25 mm.

b. Pada tangga, stek pengikat antar struktur tangga dan balok berupa tulangan corbel yang dipasang dengan sistem terbuka dan dicor bersama dengan tangga precast.

c. Sambungan tangga dan balok dicor bersamaan dengan topping.

 

struktur tangga

 

B. Pelat Bordes Tangga

a. Pelat bordes dicetak/dicor bersama dengan struktur tangga.

b. Pelat bordes menumpu pada balok tangga sejarak 25 mm, dan diberi tulangan corbel yg dipasang dengan sistem terbuka pada pelat bordes.

c. Sambungan pelat bordes dan balok tangga digrouting sesuai dengan spesifikasi grouting materials.

 

pelat bordes tangga

 

Catatan : 

- Balok tangga bukan merupakan balok struktural, balok tangga digunakan sebagai strukturpendukung untuk menopang struktur tangga.

- Balok tangga menumpu pada kolom struktur yang berada diantara tangga kanan kiri.

 

d. Sambungan antar pelat bordes menggunakan tulangan yang tertanam dalam pelat bordes yang ditekuk kearah luar dan diberi tulangan tambahan sebagai pengikat antar panel.

e. Sambungan antar pelat bordes digrouting sesuai dengan spesifikasi grouting materials.

 

pelat bordes

 

f. Sambungan tulangan pelat bordes dan struktur tangga tidak berhenti, namun tetap menerus sesuai dengan panjang penyaluran = Ld (lihat lampiran).

 

pelat bordes 

 

 

METODE PELAKSANAAN BCS SYSTEM

 

I. PEKERJAAN PERSIAPAN

 

PENGUKURAN DAN BOUPLANK

 

II. PEKERJAAN SLOOF DAN PILE CAP

 

II.1. BOBOK TIANG PANCANG

 

BOBOK TIANG PANCANG

 

 

II.2. URUGAN PASIR DAN LANTAI KERJA

 

URUGAN PASIR DAN LANTAI KERJA

 

 

II.3. MARKING PILE CAP DAN SLOOF

 

MARKING PILE CAP DAN SLOOF  

 

II.4. ERECTION SLOOF DANPEMASANGAN TULANGAN PILE CAP

 

ERECTION SLOOF DANPEMASANGAN TULANGAN PILE CAP

 

II.5. ERECTION SLOOF DAN PEMASANGAN TULANGAN PILE CAP

 

ERECTION SLOOF DAN PEMASANGAN TULANGAN PILE CAP

 

 

 

III. ERECTION KOLOM

 

III.1. MARKING KOLOM DAN PERSIAPAN ALAT BANTU

 

 

sabuk kolom stoper pengarah adjustable brace

 

ERECTION KOLOM

 

III.2. ERECTION KOLOM, SETTING ADJUSTABLE BRACE DAN PENGELSAN TITIK PD STEK KOLOM DAN GROUTING

 

ERECTION KOLOM

 

IV. ERECTION BALOK

IV.1. MARKING POSISI AS KOLOM DAN BALOK

MARKING POSISI AS KOLOM DAN BALOK

 

IV.2. PASANG SCAFOLDING, BALOK KAYU DAN ERECTION BALOK

 

erection balok

 

IV.3. BALOK TERPASANG SESUAI DNG POSISI

 

BALOK TERPASANG SESUAI DNG POSISI

 

IV.4. PASANG SAMBUNGAN BESI DGN LAS DAN GROUTING KEPALA KOLOM

 

SAMBUNGAN BESI DGN LAS DAN GROUTING KEPALA KOLOM

 

V. ERECTION SLAB

 

V.1. PASANG SCAFLDING DAN ERECTION SLAB

 

PASANG SCAFLDING DAN ERECTION SLAB

 

VI. COR TOPPING

VI.1. PASANG TUL. POKOK BALOK DAN TUL. TOPPING SLAB

PASANG TUL. POKOK BALOK DAN TUL. TOPPING SLAB

 

VI.2. COR TOPPING SLAB

 

COR TOPPING SLAB

 

 

VII. PEKERJAAN BERIKUTNYA

 

VII.1. LEPAS SCAFOLDING, PASANG BATU BATA DAN PERSIAPAN ERECTION KOLOM LT. 2

 

PASANG BATU BATA 

 

VIII. ERECTION TANGGA PRECAST

TANGGA PRECAST

IX. PEKERJAAN LANTAI BERIKUTNYA

 

PEKERJAAN LANTAI BERIKUTNYA

Currently have 2 comments:

  1. Unknown says:

    Makasih atas ilmunya..

  1. abee says:

    ".......Panjang pengelasan (Ls) sesuai dengan diameter kolom (lihat lampiran)......."

    lampirannya dmn ya pak?

Leave a Reply

Post a Comment